Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

09/02/18

Memupuk Kelakatan Anak

Anak adalah generasi penerus keluarga, bahkan menjadi dambaan orang tua. Sejak di dalam kendungan anak sudah mendapat perlakuan istimewa dari orang tuanya, sampai anak tersebut masuk dalam usia dewasa dan mandiri. Menurut Norma Tarazi bahwa Orang tua secara naluriah pasti mencintai anaknya, ingin melindungi mereka dan melakukan semua yang terbaik bagi mereka. (Tarazi, 2003: 63) Tidak jauh berbeda dengan ungkapan Abdullah Nasih Ulawan, bahwa setiap keluarga muslim memiliki tanggung jawab dan kewajiban dalam mendidik anak dengan dasar-dasar yang telah diletakkan oleh Islam dan telah digambarkan oleh nabi Muhammad Saw, (Ulwan, 1981 : 53)  

15/09/16

Sekecil apapun perbuatan Allah Swt melihat*

Pada zaman dahulu hiduplah seorang keluarga yang berkecukupan rendah, ayahnya bekerja sebagai petani, ibunya tidak bekerja karna lumpuh, sedangkan 3 anaknya ikut membantu orang tuanya dengan menjual koran keliling. Kadang ayahnya sehari mendapatkan Rp. 800.000 (itupun jika sedang panen, tetapi uang segitu belum juga untuk beli pupuk nya kembali) sedangkan anaknya kadang sehari mendapat 100.000 (jika laris) Tetapi mereka tidak pernah mengeluh dengan penghasilan segitu, karna mereka terus berusaha dan memohon kepada Allah SWT.

Cermin seorang nenek*


Di sebuah desa, hiduplah seorang nenek bernama Nara. Nenek Nara bekerja sebagai pengangkat kayu di desanya. Setiap harinya nek Nara selalu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Nek Nara hidup hanyalah sebatang kara saja. Tidak ada keluarga, tidak bermewah-mewahan. Nek nara sangat sederhana dan sangat baik sekali menurut warga di desa itu. Suatu hari saat nek Nara hendak pergi ke hutan untuk mencari kayu, nek Nara melihat seorang bocah sedang duduk kelaparan di gubuk tengah hutan. Lalu nek Nara bertanya kepada bocah kecil itu “nak, siapa namamu dan mengapa engkau disini?”ujar nek Nara.

07/08/16

Alam Sebagai Ayat

Suatu malam Rasulullah SAW meminta izin kepada istrinya, Aisyah, untuk shalat malam. Dalam shalatnya, beliau menangis. Air matanya mengalir deras. Beliau terus beribadah hingga sahabat Bilal mengumandangkan azan Subuh. Beliau masih menangis saat Bilal datang menemuinya. ''Mengapa Tuan menangis?'' tanya Bilal. ''Bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosa Tuan baik yang lalu maupun yang akan datang?''
Nabi menjawab, ''Bagaimana aku tidak menangis, telah diturunkan kepadaku malam tadi ayat ini, 'Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang ada tanda-tanda bagi orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri atau duduk atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka'.'' (Ali 'Imran: 190-191).