Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

29/11/10

Islam Berbicara Bencana


Bencana adalah sesuatu yang buruk yang menimpa manusia. Misalnya, bencana alam berupa banjir, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, gunung meletus, dan lain-lain. Bencana tentu menimbulkan keburukan, berupa luka, hilangnya harta benda, hilangnya rumah tinggal, atau bahkan hilangnya nyawa.


Bencana banjir bandang Wasior telah membawa korban ratusan tewas dan hilang serta lebih dari 2000 orang mengungsi, bencana gempa dan tsunami Mentawai telah memakan korban 461 orang dan 43 orang hilang dan sekitar 8000 orang mengungsi. Dan gunung merapi telah menimbulkan korban 206 jiwa, 486 menjadi pasien rumah sakit dan hampir 400 ribu menempati lebih dari 500 titik pengungsian di seputar Yogyakarta, Magelang, Boyolali, dan Klaten.

Dulu tsunami Aceh pada tahun 2004 telah menimbulkan korban ratusan ribu orang tewas dan hilang serta jutaan orang mengungsi. Bank Dunia mencatat bahwa dalam 40 tahun terakhir ini ada sekitar 3,3 juta orang tewas sebagai korban bencana alam di seluruh dunia, 1 juta di antaranya tewas di Afrika akibat kemarau panjang dan kekeringan. Laporan gabungan Bank Dunia dan PBB menyebutkan kerugian akibat kerusakan property karena gempa bumi sepanjang 1970-2008 mencapai sekitar 2.300 miliar USD.

Bencana yang menimpa manusia, apalagi bencana alam, tentu berasal dari Allah SWT, pencipta manusia dan alam semesta. Namun Allah SWT menjelaskan bahwa terjadinya bencana itu lantaran perbuatan tangan-tangan manusia. Allah SWT berfirman:

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).(QS. Ar Ruum 41).

Dalam tafsir Jalalain dikatakan bahwa “karena perbuatan tangan manusia” dalam ayat di atas maksudnya adalah “ karena berbagai kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia”. Juga Allah menyatakan bahwa dengan adanya berbagai kerusakan dalam berbagai bencana yang ada itu adalah agar Allah SWT merasakan kepada manusia sebagian dari apa yang mereka perbuat. Dan tujuan Allah SWT membuat manusia agar merasakan akibat dari sebagian apa yang mereka kerjakan adalah agar mereka kembali ke jalan yang benar, yakni bertaubat.

Namun sering manusia justru tidak kembali kepada kebenaran, malah tambah melakukan kesesatan. Misalnya saja ritual tolak bala yang dilakukan oleh paguyuban kebatinan tri tunggal (PKTT) Yogya yang memotong kerbau dan menanam kepalanya di lereng Gunung Merapi. Padahal itu tidak ada asl usulnya dari agama Allah SWT dan satu bentuk kemusyrikan yang dimurkai Allah SWT.

Bencana Adalah Musibah

Segala bencana yang menimpa manusia di dalam terminology Al Quran dan As Sunnah, adalah musibah. Kata musibah berasal dari kata ashaaba-yushiibu-mushiibah, artinya sesuatu yang menimpa.

Musibah apapun yang menimpa manusia telah digariskan oleh Allah SWT dan telah ditetapkan di lauhil mahfuzh. Allah SWT berfirman:

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (QS. Al Hadid 22).

Dan setiap musibah itu tidak akan menimpa seseorang atau suatu kaum kecuali telah ditetapkan oleh Allah SWT:

Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami…" (QS. At Taubah 51).

Musibah Adalah Bala’ alias Ujian

Allah SWT memberikan bala’ atau ujian dan cobaan kepada manusia, baik dengan perkara yang baik maupun perkara yang buruk. Allah SWT berfirman:
“Dan kami bagi-bagi mereka di dunia Ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. dan kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. Al A’raf 168).

Musibah dalam bentuk sesuatu yang buruk untuk menguji kesabaran orang-orang mukmin. Allah SWT berfirman:

Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. 156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" (QS. Al Baqarah 155-156).

Innalillahi wainna ilaihi raajiun, artinya: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. Kalimat Ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). Sikap ridlo dengan takdir Allah dan istirja itulah yang dianjurkan kepada umat Islam waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil. Dengan sikap tersebut maka umat Islam tidak akan stress apalagi gila. Dan akan kembali menjalani hidup sebagai hamba Allah SWT yang senantiasa beribadah kepada-Nya.

Bencana Sebagai Azab

Bencana diungkap oleh Al Quran dengan kata ba’s dengan makna azab. Allah SWT berfirman:

Betapa banyaknya negeri yang telah kami binasakan, Maka datanglah siksaan kami (menimpa penduduk)nya di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka beristirahat di tengah hari. (QS. Al A’raf 4).

Maka Mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. Al An’am 43).

Bencana sebagai azab untuk membalas sebagian perbuatan dosa-dosa manusia, dan sisanya adalah azab akhirat yang jauh lebih keras dan pedih. Dan Allah akan mendatangkan azabnya dari arah manapun yang Dia kehendaki. Allah SWT berfirman:

Katakanlah: " dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran kami silih berganti agar mereka memahami(nya)".(QS. Al An’am 65).

Kapan Datangnya Azab?

Imam Ahmad dan Ibnu Majah meriwayatkan suatu hadits bahwasanya rasulullah saw. bersabda: “Bagaimana kalian apabila terjadi lima perkara? Dan aku berdoa mudah-mudahan lima perkara itu tidak terjadi pada kalian atau kalian tidak menjumpainya, yaitu:
(1) Tidaklah perbuatan zina itu tampak dikerjakan secara terang-terangan pada suatu kaum, melainkan akan muncul penyakit tha’un dan kelaparan yang tidak pernah dijumpai generasi sebelumnya;
(2) dan tidaklah kaum itu menahan zakat melainkan Allah menahan hujan turun dari langit kepada mereka, andai tidak ada binatang di antara mereka pasti hujan tidak turun kepada mereka;
(3) dan tidaklah kaum itu mengurangi takaran dan timbangan melainkan mereka disiksa oleh Allah dengan kesengsaraan yang bertahun-tahun dengan sulitnya kebutuhan hidup dan menyelewengnya penguasa;
(4) dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka itu mengambil keputusan hukum dengan selain hokum yang diturunkan Allah melainkan mereka akan dikuasai oleh musuh yang merampas sebagian kekuasaan mereka;
(5) dan tidaklah mereka menyia-nyiakan Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya melainkan Allah menjadikan bahaya di antara mereka sendiri”.

Khatimah

Hadits di atas menerangkan dengan jelas bahwa berbagai kerusakan di muka bumi ini tidak terjadi melainkan karena perbuatan manusia yang durhaka kepada Allah SWT. Khalifah Abu Bakar Shiddiq pernah berpidato:

“Sesungguhnya manusia bilamana mereka melihat orang zalim lalu mereka tidak mengambil tangan si zalim itu (agar menghentikan kezalimannya) atau melihat kemungkaran apapun lalu mereka tidak mengubahnya maka Allah akan mengumumkan siksa-Nya kepada mereka semuanya”. (Sahih Ibnu Hibban Juz 1/539)
disadur dari
www.suara-islam.com
Poskan Komentar